Packing List Untuk Traveling Bersama Anak

Puasa memang baru hari ke-2 dan Lebaran masih lama. Tapi nggak ada salahnya dari sekarang mempersiapkan segala sesuatunya untuk mudik nanti, sekalian sambil ngabuburit ya kan.

Cie, gampang ya emang kalo ngomongin teorinya, tapi pas praktekinnya sih males banget. Apalagi saya nggak terlalu suka packing. Siapa yang gitu juga? *bergandengan tangan dengan yang senasib* 

 

Me while packing. Everytime.

Tapi, semuanya BERUBAH saat saya punya anak. Keadaan memaksa saya untuk jadi lebih teliti dan well prepared dalam urusan packing untuk kebutuhan dan keperluan anak.

 

I wish i could have that super power.

 

Pengalaman pertama anak saya ke luar kota itu saat ia berumur 2 bulan. Kami pergi naik mobil dari Jakarta ke Bandung untuk mengunjungi keluarga saya. Sepanjang jalan ia tertidur, sesekali bangun hanya untuk menyusu saja. Persiapan packing untuk perjalanan perdana saat itu cukup rempong, maklum pemula, segala dibawa karena takut ada yang kurang. Jadi barang bawaan anak bayik bisa 3 tas besar sendiri, sementara barang bawaan ibu dan bapaknya cuma 1 tas besar aja. Apalagi kalau mau nginep agak lama di Bandung, bawaannya bisa kayak mau pindahan rumah. HAHAHA.

 

yeah.

 

Ketika anak sudah mulai besar, ada beberapa penyesuaian yang kami lakukan saat packing seperti:

1. Jumlah popok dikurangi karena penggantiannya tidak sesering saat ia masih newborn. Dan mungkin item popok ini akan hilang kalau anak sudah toilet training.

2. Tidak lagi membawa sarung tangan, sarung kaki dan bedong.

3. Nggak bawa stroller kalau waktu menginapnya cuma sehari-dua hari.

4. Saat sudah mulai MPASI, instead of  bawa blender dan slowcooker kemana-mana, saya prefer untuk bikin makanan beku yang nantinya tinggal dipanasin aja atau bawa instant food. Kalau di rumah Bandung, tinggal belanja dan bisa bikin sendiri, tapi kalau lagi staycation di hotel sih bisa ngolah instant food, atau mesen makanan dan minta nggak pakai gula garam (bisa di restoran atau di hotel) kayak mashed potato, kentang goreng, telur ceplok, telur dadar, bubur ayam, jus buah, atau buah-buahan kalau umur anaknya belum 1 tahun. Lebih enak sih pas anaknya udah berumur 1 tahunan, udah bisa pesen makanan yang sama kayak kita orang tuanya.

5. Mengganti bola kapas dengan tisu basah.

6. Karena sudah tidak pumping lagi jadi botol-botol kaca, plastik, dan alat pumpingnya sekarang berjejer dengan manis di lemari.

7. Tidak lagi membawa breast pad.

8. Toilettries dan handuk bayi hanya dibawa ketika akan staycation di hotel.

9. Tidak lagi membawa baby carrier atau gendongan saat anak sudah bisa jalan. Selain tambah berat badan si anaknya, lebih baik dibiasakan untuk jalan kaki.

10. Tidak lagi membawa apron saat anak di atas 1 tahun. Pada usia ini, frekuensi menyusu anak saya sudah mulai berkurang dan biasanya kalau memang anaknya sudah haus bisa ditawarkan minum air putih atau susu UHT. Kalau sekiranya akan pergi ke tempat yang tidak ada ruang menyusuinya, biasanya akan saya susui dulu sebelum kami berangkat.

 

Ya sudahlah ya.

 

Beberapa item memang menyesuaikan semakin anaknya bertambah besar. Tapi ada item-item wajib yang walaupun sifatnya precaution tapi tetap harus dan selalu dibawa kalau lagi jalan-jalan ke luar kota, seperti:

1. Alas ompol untuk ganti popok, jaga-jaga kalau anak pup atau popoknya mulai nggak nyaman, sementara rest area masih jauh atau nggak ada tempat untuk ganti popok. Biar bisa ganti di mobil.

2. Saat anak sudah MPASI, bisa bawa air putih dan cemilan favoritnya.

3. Kantong plastik atau kantong yang bisa digunakan untuk menyimpan pakaian kotor dan membuang popok kotor.

4. Baju dan alas kaki yang nyaman.

5. Termometer, salep untuk luka, essentials oils dan obat penurun panas. Soalnya kita nggak bisa memprediksi kapan anak akan sakit. Daripada panik lebih baik membawa obat-obatan yang sesuai dengan riwayat kesehatan anak.

6. Berhubung semakin besar si anak semakin nggak anteng lama-lama diem di mobil daripada anak rewel pas jalanan lagi macet mending bawa beberapa mainan. Saya sebisa mungkin menawarkan tontonan di gadget sebagai opsi terakhir saat dia sudah bosan bermain dengan mainan yang dibawa. *sayang kuotanya bos!* *ternyata pelit* *dasar fakir kuota!*

 

tepok jidat

 

Beberapa opsi mainan yang saya bawa adalah buku kain, teether (waktu anaknya masih fase oral), boneka, mainan yang mengeluarkan musik/suara, dan DIY Busy Books dari kain.

Kira-kira begitulah persiapan packing versi saya, semoga bisa memberikan sedikit gambaran ya buat orang tua yang masih clueless soal packing untuk traveling ke luar kota bersama bayi/balita. Silahkan disesuaikan lagi dengan kebutuhan dan kebiasaan anaknya. ^^

 

I told ya..

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Packing List Untuk Traveling Bersama Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s