Weaning with Love (?) – The Beginning

3 bulan lagi, Tanya akan berusia 2 tahun, yang artinya sebentar lagi memasuki masa-masa ia harus disapih. Saya sih pengennya pas dia 2 tahun nanti (atau lebih dikit boleh deh) dia sudah selesai disapih, yang utama sih bisa tidur sendiri karena hampir selalu dia tidur sambil disusui (kalau di kamusnya Tanya, disusui/minta ASI = nenen). Di manapun dan kapanpun. So, its quite hard for me and her to begin this process.

Awalnya bingung, mulai darimana sih proses menyapih ini. Terus coba tanya sana-sini dan googling tentang cara nyapih anak. Kebanyakan orang, termasuk Mama dan Mama mertua saya, menyapih dengan cara mengoleskan brotowali ke puting (brotowali ini konon rasanya puahit banget, saya sih belom pernah coba. Kalaupun dulu disapih dengan cara ini sudah lupa juga rasanya). Ada juga yang ngolesi yang pedes-pedes ke putingnya (ouch, definitely won’t try this one), melumuri puting dengan betadine supaya tampak “menyeramkan” dan ada juga yang menempelkan kapas ke putingnya. Konon cara-cara tersebut memiliki probabilitas keberhasilan menyapih dalam waktu yang singkat (2-3 hari) sebesar 90% dan less drama. Tapi, ada juga yang pake cara komunikasi baik-baik sama anaknya kalau menyusu sebelum tidurnya diganti dengan peluk aja dan diberikan minuman yang lain untuk mengganti air susu ibunya. Yang ini dibutuhkan komitmen dan ketegasan, proses sapih dan rewel-rewelnya 5 hari.

Saya sempet tertarik dengan cara-cara tersebut. Tapi, setelah saya pertimbangkan, saat ini saya lebih sreg memakai cara menyapih dengan berkomunikasi dan melibatkan anak supaya dia nggak kaget dan willing untuk disapih.  It takes a long time, tapi nggak apa-apa deh, kalau memang udah mentok sampai batas waktu yang ditentukan barulah kita kembali ke cara-cara di alinea ke-2 (mudah-mudahan sih berhasil ya).

Jujur, di satu sisi ada kekhawatiran kalau setelah disapih nanti dia bakal teteup nyariin saya nggak ya? Bakal bisa jagain bondingnya teteup kuat nggak ya? Tapi di sisi lain, dengan sudah banyaknya gigi Tanya (hampir lengkap), saya mulai merasa tidak nyaman saat menyusui lama-lama (unless you’re Judge Bao, please don’t judge me ya boebok! #apeu).

So, di usianya yang 20 bulan, saya mulai sounding perihal sapih-menyapih ini ke dia. Sambil dia menyusu, saya panggil namanya sampai mata kami bertatapan. Baru saya ajak ngobrol: “Tanya, nanti kalo udah 2 tahun harus berhenti nenen ya. Harus bisa bobo sendiri nggak usah pake nenen. Gigi Tanya juga udah banyak jadi minumnya ga dari nenen Buni lagi ya”. Reaksinya cuma ngeliatin, terus matanya berpaling dari saya. It’s okay lah. Yang penting udah disounding aja dulu.

Cara selanjutnya,  ketika akan pergi kami bikin komitmen kalau selama pergi, Tanya nggak boleh menyusu. Nanti kalau udah di rumah baru boleh menyusu lagi. Awalnya sih masih merengek-rengek minta, terus merajuk, tantrum sampai ketiduran juga pernah. Padahal waktu itu kami lagi di mall yang nursery roomnya bagus banget. Karena udah komitmen, saya coba mengalihkan atau menggendong ketika dia “sakaw” nenen di tempat umum atau lagi di perjalanan. Kekonsistenan ini berbuah manis, sekarang sih Tanya sudah mulai terbiasa nggak menyusui selama kami pergi (apa harus kita pergi terus aja ya nak? Nggak diem di rumah seharian? Biar kamu nggak minta nenen lagi? Hahaha. Capek ajeee). Paling sesekali dia minta untuk menyusu tapi nggak lagi pakai drama. Waktu saya bilang “Buni kan udah bilang kalo kita pergi Tanya ga boleh nenen. Kan Tanya udah janji ya kalo mau ikut pergi berarti ga nenen“. Habis diingetin gitu sih biasanya anaknya  juga diem lagi. Kayaknya sih dia coba-coba aja, kira-kira Buni ngasi nggak ya? Lupa nggak ya sama janjinya? Hahaha.

Cara lain yang kemarenan saya baru coba (dan masih dilakukan sampai sekarang) adalah, saya menyimpan gelas berisi air putih di dekat tempat tidur. Sebisa mungkin saya tawarkan dia untuk minum air putih dulu sebelum menyusu dan tiap dia kebangun minta nenen. Supaya nggak ngempeng sambil saya bilang juga kalau nenennya jangan lama-lama ya, soalnya Gigi Tanya kan udah banyak, puting Buni jadi sakit kalau Tanya lama-lama nenennya. Her first reaction really surprised me..  Dia berhenti menyusu. Terus dia pegang payudara saya sambil bilang “nenen” lanjut pegang giginya sambil bilang “gigi”. Well done girl, you got it! Begitu pikir saya. Tapi reaksi selanjutnya bikin saya nangis dalam hati….

Jadi setelah dia berhenti menyusu, saya pura-pura merem, biar disangka udah tidur. Dia lalu memunggungi saya dan mengusap-usap tangan Rizki berulang-ulang. Setelah itu, dia mengusap matanya berulang-ulang. Menghela nafas. Lalu diam. Ketika saya intip, Tanya masih terjaga. Lalu ia kembali mengusap-usap matanya. Menghela nafas lagi, sejenak terdiam. Sampai ketiga kalinya, saya balikkan badannya ke arah saya. Ternyata, matanya sudah berkaca-kaca, menahan tangis. Jadi, sedari tadi dia mengusap-usap air matanya yang turun.

Ya Allah.. mencelos hati saya. Anak sekecil itu udah bisa nahan nangis. Huhuhuhu. :((((

Ketika matanya menatap saya, dia terisak. Saat itu juga saya peluk dan bilang, “Nah nenen Buni udah nggak apa-apa nih. Nyanya boleh nenen lagi tapi jangan ngempeng ya!”. Tanya menyusu dengan lahapnya. Seperti bayi yang sedang growth spurts.

Nggak lama dari situ, matanya terpejam. Tidak ada pergerakan menyusu lagi. Oke dia sudah lelap nampaknya, pikir saya. Saya lepaskan puting saya dari mulutnya. Tapi, tiba-tiba dia menangis sejadi-jadinya! Ya Allah, nak, efek dipendem ya tadi nangisnya jadi meledak deh. Well.. karena segala cara dicoba untuk meredakan tangisnya belom berhasil jadilah saya susui lagi. Bener aja loh langsung diem diam Hhhh~

Iya sih, kamu pasti sedih dan kaget ya waktu Buni bilang soal ketidaknyamanan Buni kalau kamu menyusu lama-lama. Huhuhu. Iyaa.. Buni sadar memang nggak bisa langsung kok. Nggak apa-apa ya nak. Kita kan lagi sama-sama belajar. Buni juga belajar buat jadi tegas untuk mengurangi dan bahkan nggak menyusui kamu lagi nantinya, dan ini tahap awal supaya Tanya belajar mandiri, tidur sendiri tanpa disusui.

Seems like, it will be a long long long journey for us yah, Nyanya. It’s okay, let’s enjoy the process together! Semoga kita bisa tetap konsisten dan komitmen dengan cara menyapih yang ini.

 

Advertisements

2 thoughts on “Weaning with Love (?) – The Beginning

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s