Percakapan Saat Hujan.

“Jangan hujan-hujanan, nanti sakit lho!”

Raut wajahnya yang semula ceria berubah menjadi cemberut. Namun ia tidak beranjak, tangannya tetap menadahi tetesan air hujan yang turun dari pinggiran atap.

“Kalau gitu, tanah, batu, bunga, dan pohon juga nanti sakit dong? Kan mereka kehujanan.”

Buni terdiam. Menghela nafas panjang.

Tanah, batu, bunga dan pohon nggak akan sakit kalau kehujanan. Mereka nggak akan kena virus dan bakteri seperti kita manusia.”

Keningnya berkerut mendengar penjelasan ibunya.

“Virus dan bakteri itu apa Bun?”

Buni menghela nafas lagi.

“Virus dan bakteri itu pembawa penyakit, dia menyerang daya tahan tubuh kita. Daya tahan tubuh itu seperti seorang pengawal atau penjaga. Inget nggak waktu kamu sakit batuk? Nah, itu gara-gara virus masuk ke tubuh kamu menyerang si daya tahan tubuh, eh daya tahan tubuhnya kalah deh.”

Mendengar penjelasan sang ibu, keningnya tidak lagi berkerut.

“Oh, penjaga kayak pak Basri satpam di depan komplek kita ya, Bu?”

Mendengar ucapan anaknya, Buni tertawa kecil.

Haha, iya betul seperti pak Basri.”

Masih dengan wajah polos, ia melanjutkan,“Yaaaah.. kok daya tahan tubuhku bisa kalah sih? Memang dia nggak tinggi dan besar seperti pak Basri ya?”

Buni tergelak. “Hahaha. Bisa jadi dia nggak tinggi dan besar. Atau bisa juga jumlah si virus dan bakteri lebih banyak.”

Raut wajahnya berubah menjadi kesal.

Terus gimana caranya biar daya tahan tubuh aku jadi kuat dan bisa menang lawan virus?”

“Caranya, kamu istirahat yang cukup, makan-makanan yang bergizi, dan menjaga kebersihan. Hayo, kamu kan masih suka nggak mau makan sayur, padahal sayur banyak gizinya lho!”

“Kalo gitu aku mau sering makan sayur deh biar daya tahan tubuhnya kuat!”

“Nah gitu dong, janji nih ya mau sering makan sayur?”

“Hmm, iya deh janji.. nanti kalo udah sering makan sayur, aku udah boleh hujan-hujanan dong? Kan daya tahan tubuh aku sudah kuat!”

“Hahahaha.. iya boleh, tapi habis hujan-hujanan harus mandi ya!”

“Kenapa habis hujan-hujanan harus mandi sih?”

“Loh iya.. Walaupun sudah kalah dari daya tahan tubuh yang kuat, tapi si virus kan senang di tempat yang dingin dan kotor juga. Jadi biar dia nggak betah dan pergi jauh dari badan kita, kita jaga kebersihan dengan mandi deh.”

“Oh, begitu, ya ya ya baiklah..”

Seolah puas dengan penjelasan ibunya, ia kembali menatap hujan yang masih turun dengan derasnya sembari memainkan tetesan hujan dengan jari-jari mungilnya. Sesekali ia menghentakkan kaki dan menggoyangkan badannya perlahan. Dalam hati ia berkata, tunggu ya hujan, suatu hari nanti kita pasti akan menari bersama.

Bermain hujan.

*percakapan ini hanyalah fiksi

*nama Buni bukan terinspirasi dari Buni Yani, tapi merupakan panggilan anak kepada ibunya yang bernama Dini.😆
Simak cerita dari #BeWonderfulBlogger lainnya tentang hujan di sini:

1. Rere : http://atemalem.com/november-rain/

2. Tiw: bit.ly/nadahujan

3. Justi: http://wp.me/p2Z31G-8Z

4. Tika: https://lifetimejourney.me/2016/11/29/hujan-bulan-november/#more-7255

Advertisements

6 thoughts on “Percakapan Saat Hujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s