Aku (tak) Takut.

Beberapa waktu lalu dapet challenge menulis dari grup Wonderful Blogger dengan tema seram. Membayangkan tentang hal yang menyeramkan aja udah ogah yah, gimana nulisnya? Tapi… akhirnya saya (mencoba) memberanikan diri untuk menulis.

Ketika ditanya saat ini apa hal yang menyeramkan buat saya?  Yang terpikir pertama adalah saat anak GTM dan yang kedua adalah cicak dan saudara sebangsanya.

Ketakutan anak GTM (Gerakan Tutup Mulut = anak mingkem ketika disuapi makan berat dan ogah-ogahan ketika melihat makanan) muncul tepat di saat saya lengah. Jadi nih ya, ketika masa MPASI anak saya itu tipe yang lahap makan apa aja. Doyan dikasih makan apa aja. Ketika melihat postingan di salah satu grup di Facebook yang curhat kalau anaknya GTM. Begitu banyak komentar dari sejumlah ibu yang juga sedang galau karena mengalami hal yang sama. Padahal mereka sudah mengaplikasikan tips yang diposting admin tentang menghadapi anak GTM. Tapi rupanya belum berhasil. Saya sempet ngebatin, emang kalau anak GTM jadi segalau itu ya? Tinggal biarin aja juga ntar laper sendiri. Kayaknya kalau anak saya nggak mungkin GTM deh, wong dia kalo makan suka nambah.

Beberapa hari kemudian, anak saya GTM.

Panik. Sedih. Kesal. Galau.

Ah, rasanya pengen peluk ibu-ibu yang anaknya lagi GTM. I feel you, buk. I feel you…..

Emang nggak boleh ngerasa cepet puas kali ya ini. Tapi bener loh, setelah saya flashback, anak GTM ini membuat sumbu sabar saya cepat habis. Tingkat stres paling tinggi yang pernah saya alami. Akhirnya saya curhat di grup. Saya dapat berbagai tips yang belom saya tau. Selain itu, saya juga dapat dukungan untuk fleksibel sedikit dalam pemberian MPASI anak. Well, perasaan saya membaik dan sumbu sabar sedikit lebih panjang dari biasanya. Kalo kata mereka “lemesin aja tsayyy, ntar juga nemu celahnya. Ada fasenya kok dia bakalan ngabisin isi kulkas sampe kita bingung mau kasi makan apa lagi”

Oke. Hingga waktu itu datang, saya akan sabar menunggu. Nunggu jodoh dikirimkan Tuhan aja sabar kok. #eaaak

Tentang hal menyeramkan selanjutnya yaitu cicak dan sebangsanya. Saya nggak tahu sejak kapan dan alasan saya takut sama reptil. Yang jelas ini bukam turunan, karena orang tua saya nggak takut sama reptil. Saya nggak bisa melihat reptil lama-lama, pasti langsung bergidik. Saya nggak bisa berdekatan dengan mereka, minimal banget radius 5m lah. Saya juga nggak bisa tuh ngebersihin kalo ada bangkainya. Iya, udah jadi bangkai aja saya masih ngeri. Belom pernah tes psikolog tapi kalau dari googling sih yang saya alami ini namanya herpetophobia.

Sempat disuruh berobat ke psikolog tentang hal ini. Tapi begitu tahu kalau salah satu pengobatannya adalah berdekatan dengan objek yang ditakuti, wah saya langsung mundur. Mending saya tetap takut aja deh. Toh nggak begitu ganggu amat sih ketakutan ini. Cuma nggak nyaman dan pernah bikin saya musuhan sama orang selama 3 hari gara-gara tuh orang bercandain saya dengan ngelempar cicak mati. Hhhh….

Surprisingly, anak saya sih saat ini nggak takut cicak. Malah penasaran pengen nyamperin kalo liat. Tinggal emaknya aja nih yang takut tapi sok-sokan nyembunyiin ketakutannya pas nemenin anaknya ngejar cicak, dengan maksud tidak menularkan ketakutan tak beralasan ini ke anak. Eheu. Bahkan kata pertama, dan dari sekian banyak lagu yang saya ajarkan, lagu favorit yang bisa dia nyanyikan adalah “cica.. cica.. di didi” (cicak-cicak di dinding).😂

Ya sudah mau gimana lagi. Tugas berat selanjutnya mungkin menangani ketakutan yang ini.

Saya baru sadar, ternyata rasa takut itu bisa timbul dari hal baru yang belum pernah kita alami, nggak cuma dari pikiran atau kenangan yang tersimpan lama dalam diri kita. Beberapa di antaranya bisa saya hadapi, kendalikan bahkan saya taklukkan. which is easy to tell but hard(est) to do. Butuh waktu yang nggak sebentar.

Saya seberani itu? Eits, ada juga kok ketakutan yang nggak bisa saya hadapi dan saya memilih cara paling gampang yaitu menghindarinya. Tapi cara ini justru membutuhkan waktu yang lebih lama dari cara susah yang saya sebutkan di atas.

Lalu, muncul pertanyaan yang belum bisa saya jawab. Mau sampai kapan menghindar terus? Yakin nggak bakalan capek? Yakin nih nggak bosen?

#kemudianhening

#heningyangpanjang

You can’t stop being afraid just by pretending that everything scares you isn’t there.

(Michael Marshall)

Mau baca cerita seram lainnya ada di sini ya:

1.Andhine: http://ordinarykentang.blogspot.com/2016/10/meninggal-jadi-kunti.html

2.Justi: http://wp.me/p2Z31G-8I

3.Titiw: http://titiw.com/2016/11/09/10-film-pendek-horor-paling-seram/

4.Rere: http://atemalem.com/takut-tidur-sendirian-di-hotel/

5.Nadia: http://www.noninadia.com/2016/10/ada-hantu-di-kampusku.html?m=1

6.Rahne: https://rahneputri.com/2016/10/31/tentang-ketakutan/

7.Urry: http://www.rryfunfunnyproject.com/single-post/2016/11/12/Insidious-Lights-Out

Advertisements

One thought on “Aku (tak) Takut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s