That Moment, When You Become a Parent..

Berhubung postingan tentang kehamilan nggak berurutan, sebelum melanjutkan baca post, mungkin bersedia mampir dulu ke postingan sebelumnya (ketahuan moody nulisnya dan belom konsisten :p).

Positif Hamil

Drama Trimester Pertama

Recovery di Trimester Kedua

Nah, di trimester ketiga ini semuanya sudah berjalan dengan sangat baik meskipun sakit pinggang, sakit punggung dan sakit kaki sangat terasa karena kandungan yang semakin membesar. Ah, belum sesak dan susah tidur di malam hari karena nggak dapet posisi tidur yang wuenak. Tapi semuanya terbayar dengan semakin terasa dan semakin aktifnya tendangan si bayi di dalam perut.

Pada minggu ke-38, setelah selesai senam hamil yang kedua, saya lanjut kontrol ke dr. Musa Soebiantoro, spOg di RSB Asih. Oh iya, memasuki minggu ke-20, saya dan Rizki memutuskan untuk ganti obgyn dan ganti rumah sakit yang lebih dekat dengan tempat tinggal. Cerita detail tentang penggantian obgynnya di postingan selanjutnya ya.

Hasil USG 2D menunjukkan bahwa kalsifikasi plasenta kandungan saya semakin banyak, sehingga bayi kurang mendapat asupan makanan dan oksigen. Dilihat dari hasil CTG pun, detak jantung bayi tidak teratur, salah satu akibat dari kalsifikasi plasenta tersebut. Namun karena frekuensi kontraksi belum meningkat sementara Kakak sudah harus lahir, maka dr.Musa meresepkan saya obat (lupa merek apa sepertinya obat tersebut adalah induksi). Padahal udah banyak jalan kaki dan olahraga, naik turun tangga, tapi kamu masih betah dalam perut ya, Kak?

“Kalau respon tubuhmu bagus sih biasanya langsung kerasa. Selambat-lambatnya hari Selasa lah, 3 hari dari sekarang. Mau tunggu di sini boleh mau pulang juga boleh. Kalau ada yang kerasa harus segera dan nggak boleh ditunda untuk balik ke sini.” pesan dr. Musa kepada saya.

Dan iyaaa bener aja, nyampe rumah jam 6 sore, jam 06.30 mulai tuh berasa nyut-nyutan kontraksi yang lebih sering dan lebih sakit dari biasanya. Cuma karena masih belum yakin nunggulah dulu kita selama 1 jam. Ternyata kontraksinya konstan dan setelah menghubungi dr. Musa, dokter nyuruh kita segera kembali ke rumah sakit. Setelah makan malam dan siap-siap, barulah jam 09.00 malam sampai rumah sakit. Langsung ke UGD untuk periksa dan CTG lagi. Setelah dicek ternyata sudah pembukaan 1. Fixed nih disuruh stay dan langsung booking kamar rawat inap. Obat yang sebelumnya dikasih dr.Musa pun dikonsumsi sampai 3x.

Sampai jam 12.00 malem masih bisa haha hihi, selfie dan kesana kemari sama suami. Jam 1 dini hari, saya disuruh berbaring untuk istirahat dan induksi diganti lewat selang infus. Jam 1.30 dini hari, kontraksi makin terasa sakitnya, tapi saya masih bisa nafas teratur seperti yang diajarkan ketika senam hamil.

Dicek oleh suster, ternyata baru pembukaan 2. Wow, lama juga ya proses pembukaannya. Suster menyarankan saya untuk tidur miring ke kiri, supaya membantu proses pembukaannya. 30 menit kemudian, kontraksi lebih terasa sakit, nafas saya mulai terengah-engah. Rizki saya biarkan untuk tidur duluan. Saya sih pengennya ikutan tidur tapi ya nggak bisa.

Jam 03.00 pagi saya bangunkan Rizki karena perut saya terasa mual bukan main. Ketika baru bangun, dalam posisi duduk, saya tidak dapat menahan keinginan untuk muntah. Ya, jadilah saya muntah di dalam ruangan.  Setelah dibersihkan, suster melakukan cek pembukaan lagi. Ternyata air ketuban saya sudah pecah, warnanya hijau dan keruh. Namun pembukaan saya baru pembukaan 3. Dengan sakit yang luar biasa hebat tapi baru pembukaan 3 itu bikin hati mencelos. Sampai kapan saya harus menahan sakit yang seperti ini? Saya berdoa semoga bayi dalam kandungan baik-baik saja walaupun air ketubannya sudah keruh. Suster mengganti cairan induksi yang mulai habis.

Sakit kontraksi yang luar biasa ditambah dengan rasa ingin mengejan membuat saya tidak dapat fokus lagi untuk bernafas secara teratur. Berkali-kali bilang ingin mengejan, berkali-kali juga suster melarang.

“Ibu, pembukaannya belum lengkap. Nggak boleh ngejan dulu ya. Ditahan. Kalau ngejan sekarang nanti mulut rahimnya luka dan bengkak, bayinya malah nggak bisa keluar, kasian kan.”

Emosi saya semakin tidak terkontrol, saya juga semakin tidak fokus karena dilarang mengejan. Sementara dorongan dari dalam untuk mengejan rasanya kuat sekali. Genggaman pada lengan Rizki berganti menjadi  cengkeraman. Bahkan saya tidak membolehkan Rizki untuk bergeser sedikitpun, padahal kondisinya diaduduk di lantai sementara lengannya saya cengkeram dengan kuat sekali. Saya mencoba sekuat tenaga untuk mengatur nafas dan fokus lagi buyar dengan keinginan untuk mengejan. Kalau ada skala sakit pada saat itu, dari skala 1-10, mungkin skalanya ada di angka 12. The most pain that my body could ever feel. The most pain that my body could ever bear.

Jam 04.30 pagi suster datang mengecek lagi pembukaan saya.

“Sus, saya pengen ngeden banget ini, udah nggak kuat banget sus nahannya.” rintih saya.

“Sabar ya bu. Ini lagi saya cek.”

“Wah, udah pembukaan 7 nih, siap-siap yuk ke ruang bersalin.” ujar susternya lagi.

Saya dipindahkan ke ruangan bersalin. Namun dr.Musa masih belum datang. Berkali-kali suster menghubungi dr.Musa namun belum ada jawaban. Kalau disuruh mendeskripsikan rasa sakit dan perasaan dalam hati yang dialami saat itu saya udah out of words. Bahkan Rizki yang sedang mengabari orangtua kami aja kena marah saya.

“Kamu ngapain sih masih megang hp, udah masuk ruang bersalin juga.” bentak saya.

“Aku tuh ngabarin orang tua kita, Sayang.”

Iya, pada saat itu, saya nggak bisa berpikiran jernih. Rasanya cuma pengen cepet-cepet mengejan, menyelesaikan proses persalinan.

Akhirnya dr.Musa datang juga dan proses persalinan pun dimulai…

“Yuk siap-siap ya ngejan, jangan merem matanya..” ujarnya.

Dan, voila! Dalam satu kali mengejan, pada jam 05.04 pagi, keluarlah makhluk cantik yang tubuhnya mungil. Tubuhnya yang masih biru dan berlendir disimpan di atas perut saya. Rasanya lega dan senang luar biasa melihat kehadirannya.

That moment when i’m become a parent, is the unbelieveable and the happiest (if i could find the words more that just a happiest) moment in my life. Being a mother is the biggest step i take. Her presence is now become a source of my happiness. I cry and i smile a lot at the same time. Those pain and tired just fade away when i see her face. I love you before we met, and the love is growing more and more within a minute. I’m sure it will getting bigger and deeper day by day, from now on. And it will  be last forever.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s