Losing You, is Not The End of The World…

Move on gue kecepetan? Mungkin Tuhan yang nggak mau membiarkan gue lama-lama dalam kesendirian. @naminadini

Hehehe. Narsis yaaa ngutip quote sendiri. Nggak apa dong ya daripada ngutip quote orang nggak nulis sumbernya. #eh :p

Pernah ngerasain bahwa pasca putus cinta adalah masa terberat bahkan lebih berat daripada masa pra putusnya. Habis putus cinta (diputusin sih lebih tepatnya #sad), gue ngerasa kayak gamang #halah, iya emang semua terasa berlebihan sedihnya dan berlebihan kecewanya. Seolah dunia tidak sedang berpihak sama gue saat itu.

Bawaannya kepengen nangis kalo lagi kangen. Bawaannya mellow kalo denger lagu yang liriknya tentang unrequited love atau broken hearted kayak One Last Cry (Bryan Mcknight), Burn (Usher), In a Rush (Blackstreet), Love of My Life (Queen), My Immortal (Evanescence), atau When I’m Thinking About You (The Sundays). Ngerasa tertohok dan perih banget pas denger lirik “How can i moved on when I’m still in love with you..” atau “What am i supposed to do when the best part of me was always you? What am i gonna say when I’m choked and you’re okay?”

Dan sekarang mengingat masa gloomy itu malah bikin senyum dan bahkan ngikik sendiri. Dih, kok bisa sih gue segitu lebaynya? But yes.. i admit that it’s really hard through the moment. Ketika gue sudah sadar dan bisa nerima kenyataan, gue jadi tahu kenapa segitu beratnya untuk move on.

1. Kebersamaan gue dan dia telah menjadi rutinitas.
2. Selain sayang dan nyaman, gue percaya dan bergantung sama dia.

Ketika sesuatu telah menjadi rutinitas dan rutinitas itu tiba-tiba harus hilang pasti kita ngerasa kayak ada yang kurang. Ada ruang kosong. Luka yang menganga.
Yang gue lakukan adalah mengisi si ruang kosong ini, menciptakan rutinitas baru dengan mingle sana-sini. Menyibukkan diri dengan sejumlah aktivitas yang belom sempat dilakuin waktu masih pacaran, pokoknya sampai gue nggak punya waktu lagi untuk galau dan kepikiran mantan.

Yang susah justru poin no.2. Gue termasuk orang yang susah percaya sama orang (musrik kali, percaya cukup sama Tuhan aja. #okemaap) dan terbiasa ngelakuin segala sesuatu sendiri. Jadi kalo gue sudah rely on someone, it means i give my trust on them, a lot. Almost full. Ini sih nyembuhinnya by the time, membiasakan diri untuk independent lagi. Membangun lagi pondasi kepercayaan ke orang baru. Nah, ini yang bikin move on jadi proses yang lama dan susah.

Lah kalo gitu emang ada move on yang gampang?

Ya ada. Kalo yang elo rasain adalah kebalikannya 2 poin di atas.

Once, my bestfriend Lisa Kartika gave me a touching and great advice which become my great cure for broken-hearted. Waktu itu gue abis (di)putus(in) lagi dan berada dalam masa menikmati kegalauan. Enjoy the pain. #halah sounds like a masochist ya?

She said, “Aduh, mellow dan galau begini tuh bukan elo banget deh. Masih banyak kok yang antri jadi pacar elo (ini dia sekalian menghibur banget deh, biasa ya pasca putus kan suka krisis kepercayaan diri. Hehe). Ngapain coba elo galau lama-lama gara-gara dia?”

“Ya kan gue masih sayang sama dia, Sa. Tapi yang bikin sedih banget adalah mengetahui ternyata dia nggak sesayang itu sama gue. Duh, gue bodoh banget sih jadi orang..” ujar gue.

“Elo nggak bodoh kok. Elo kan udah ngelakuin semua yang harusnya elo lakuin. Jadi elo nggak ada penyesalan lagi. Yang bodoh dan bakal nyesel mah dia lah, ngelepasin cewek kayak elo!”

#dheg perasaan gue tertohok tapi sedikit membaik denger kata-katanya Lisa.

“Gue tau banget elo selalu berusaha ada saat dia butuh elo. Pas elo butuh dia, dia selalu berusaha ada nggak?” Lanjut Lisa.

#dheglagi

“Hmm, ya kadang-kadang sih.” Jawab gue.

“Elo ke mana-mana sendiri, karena dia sibuk sendiri, waktu elo juga lebih banyak bareng temen-temen. Bareng gue. Jadi sebenernya, ada dia atau nggak ada dia, nggak begitu ngaruh kan buat hidup elo?”

#dheglagidanlagi

“Iya juga ya.. bener sih semua yang elo bilang. Ternyata gue nggak segitu butuhnya sama dia dan dia nggak segitu ngaruhnya buat gue.”

Itu dia yang gue maksud. Mending elo pake energi elo buat kenal sama yang baru deh daripada galauin dia mulu.”

YHA! berbagai #dheg moment itu yang bikin gue plong dan sadar bahwa he’s not even worth my time, my feeling, my trust and my tears.

Jadi ketika gue berada di situasi seperti itu lagi (which is happened to me a few times before I’m married #sad), berbekal dengan niat move on yang kuat, gue menentukan batas pada diri gue sendiri berapa lama waktu untuk puas-puasin menggalau, admit and deal with the fact lalu kembali menata hati dan membuka kesempatan untuk orang yang baru dan hubungan yang baru.

Alhamdulillah ya, sekarang level galaunya udah naik tingkat jadi level galau emak-emak nentuin menu MP-ASI anaknya minggu depan. Hahaha.

Thanks to Lisa karena percakapan singkat malam itu membangunkan logika gue yang udah lama tertidur karena gue kebanyakan maen hati. #ahzeg

Kalo kata Mocca: “Losing you is not the end of the world but it’s true that is definitely hurt…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s